Pengingat :
Aku orang yang sederhana dengan cara berpikir sederhana dan selalu menjaga untuk selalu berpikiran positif dan gampang percaya dengan orang lain. Seharusnya dengan sifatku yang kusebutkan itu, pemikiranku yang akan kutuliskan disini tidak akan menyinggung prinsip baik individu maupun golongan lain, selain yang kuyakini. Mungkin saja ada yang tidak setuju dengan pemikiranku yang memang di beberapa hal aku sendiri berpikiran agak aneh dan lain dari yang berlaku umum. Untuk tidak menimbulkan silang pendapat dan turut campur ke pribadi apalagi malah menimbulkan perselisihan, untuk itulah aku menulis hanya untuk diriku sendiri.
========================================================================
Bisa dibilang, semua orang pengin hidup selama mungkin, kecuali aku. Aku hanya pengin sampai di umur 60 tahun saja. Atau pasnya 63 lah. Sama dengan Nabi Muhammad. Benar-benar tidak pengin lebih dari itu. Tentu saja yang aku maksudkan adalah dengan mengikuti takdir akan kematianku. Aku percaya dengan takdir. Itu berarti aku akan mempertahankan nyawaku sampai tenaga dan nafas terakhirku habis. Hanya kalau boleh, kuulangi : seandainya aku bisa meminta kepada Allah, aku akan meminta nyawaku hanya sebatas umur Nabi Muhammad saja.
Aku orang yang sederhana dengan cara berpikir sederhana dan selalu menjaga untuk selalu berpikiran positif dan gampang percaya dengan orang lain. Seharusnya dengan sifatku yang kusebutkan itu, pemikiranku yang akan kutuliskan disini tidak akan menyinggung prinsip baik individu maupun golongan lain, selain yang kuyakini. Mungkin saja ada yang tidak setuju dengan pemikiranku yang memang di beberapa hal aku sendiri berpikiran agak aneh dan lain dari yang berlaku umum. Untuk tidak menimbulkan silang pendapat dan turut campur ke pribadi apalagi malah menimbulkan perselisihan, untuk itulah aku menulis hanya untuk diriku sendiri.
========================================================================
Bisa dibilang, semua orang pengin hidup selama mungkin, kecuali aku. Aku hanya pengin sampai di umur 60 tahun saja. Atau pasnya 63 lah. Sama dengan Nabi Muhammad. Benar-benar tidak pengin lebih dari itu. Tentu saja yang aku maksudkan adalah dengan mengikuti takdir akan kematianku. Aku percaya dengan takdir. Itu berarti aku akan mempertahankan nyawaku sampai tenaga dan nafas terakhirku habis. Hanya kalau boleh, kuulangi : seandainya aku bisa meminta kepada Allah, aku akan meminta nyawaku hanya sebatas umur Nabi Muhammad saja.
Mengapa aku hanya ingin sampai di umur 60 tahun saja? Kalau ditanya seperti itu, aku balik bertanya, buat apa aku harus menjalani hidup tua renta? Apakah buat beribadah mendekatkan diri kepada Allah? Itu benar untuk yang sudah mendapat hidayahNya, dan aku sangat iri dengan mereka. Memang bisa jadi, seandainya aku dapat hidayah, aku berubah pikiran akan hidup-matiku. Sekarang dengan kondisi seperti ini, buat apa hidup sampai tua renta. Hidup tua yang berarti tidak bisa melakukan sesuatu yang aku sukai.
Umurku sekarang 50. Di umurku ini, orang lain masih menganggapku hebat di diving. Tapi toh aku yang punya tubuh ini. Dibanding 20 - 30 tahun yang lalu jelas kondisiku sekarang sudah jauh berkurang. Lututku sudah terasa rapuh. Staminaku sudah tak sekuat dulu. Apalagi tenagaku yang baru sebentar sudah langsung lembek. Ini baru diving yang, di kondisi normal, tidak membutuhkan tenaga dan stamina yang bagus. Bagaimana dengan jungle trekking, naik gunung, dan lain-lain. Bagaimana dengan Free Dive yang langsung aku cintai saat merasakannya.
Jadi, secara sederhana, hidup enak itu seperti apa sih? Kalau aku yang ditanya, aku akan jawab, enak makan, enak tidur, enak sex dan enak berkegiatan. Dengan kondisiku sekarang, aku tahu bahwa batas enak untuk keempat hal itu ya hanya di umur 60 tahun itu. Sekarang ini, seperti saat aku di Jakarta kemarin, hampir tiap hari aku makan kambing dan tubuhku belum bermasalah. Bukannya aku belum pernah merasakan serangan kolesterol tinggi tetapi itu saat aku makan lobster hampir sekilo sendirian atau makan kepiting ukuran cukup besar sebanyak 10 ekor. Masih wajarlah. Tapi itu sekarang, aku ragu-ragu saat usiaku sudah menginjak kepala enam.
Sebenarnya yang aku takutkan adalah sakit diabetes karena kedua orangtuaku dan kakakku yang nomor 6 menderita diabetes. Kabarnya, kemungkinan kena diabetes untuk yang berketurunan 6x lebih besar dibanding yang normal. Diabetes membuat makan dan sex menjadi tidak enak lagi. He he... Jauh-jauh lah dariku ya diabetes.
Apa yang aku takutkan dari kematian? Yang paling aku takutkan, sama seperti orang normal lainnya, yaitu yang akan kuhadapi setelah kematian. Hari Penghakiman. Kalau sedang ingat ini, aku sangat sedih dengan hidupku yang suram bahkan gelap gulita, hancur lebur tak keruan. Tapi tetap saja tidak mengubahku menjadi lebih baik. Kalau memang aku tidak mendapat hidayah, mengapa aku harus hidup sampai tua renta? Malah dosaku akan semakin menumpuk. Setelah kejadian setelah mati, yang aku takutkan lagi adalah proses matinya. Fyi, sekarang ini harapan aku diberi hidayah dan iman yang kuat itulah doa yang kupanjatkan dan di alam pikiranku, tidak dalam bentuk doa yang terucap, aku berharap agar aku tidak berlama-lama di dunia ini.
Aku sadar kalau aku juga iri dengan proses kematian yang cepat saat kakakku yang nomor 5 meninggal. Beliau meninggal di usia 48 tahun karena serangan jantung. Hanya menghadapi sakaratul maut selama 10 menit. Padahal sebagai penerbang swasta, Beliau menjalani medical check-up setiap 6 bulan sekali. Aku sedih mendengar kabar meninggal kakakku tetapi ternyata disamping kesedihanku, aku pun merasa iri dengan proses kematiannya yang sebentar saja. Sejak saat itu aku selalu iri setiap ada teman yang meninggal dengan cepat. Bertolak belakang dengan kakakku yang nomor 6, Beliau meninggal dengan proses sakit yang cukup lama, sekitar setahun.
Bagaimana dengan anak-anak? Teman-teman lain selalu bilang, kan bisa mengasuh cucu, dan lain-lain. Memang beralih profesi menjadi baby sitter, jawabku. Aku jelas tidak meragukan kalau aku pasti akan sangat sayang dengan cucu-cucuku. Aku pasti akan dengan senang hati bermain bersama mereka tetapi merawat dan mengasuh adalah tanggung jawab orang tuanya yaitu anakku. Aku berprinsip tanggung jawab itu harus dijalani saat anakku memilih berkeluarga dan mempunyai momongan, Oleh karena itu, aku menghormati dan akan mengikuti aturan yang diberlakukan anakku untuk anak-anaknya.
Oh-ya, mungkin jika ada yang membaca ini berpikir karena aku sakit-sakitan dan hidup dengan cara tidak sehat. Tidak. Aku orang yang hidup sehat, santai dan cukup teratur, walaupun memang aku jenis orang yang malas, tidak disiplin dan manajemen hidupku kacau. Aku tidak merokok (sama sekali belum pernah merokok satu isap pun, believe me), tidak minum minuman keras dan belum pernah sakit yang cukup keras. Bahkan sakit seperti flu dan lain-lain yang umum di masyarakat pun jarang kualami. Stress karena masalah masih sangat terkendali dan jauh dari menggerogoti pikiranku. Kalau melihat cara hidupku sih seharusnya aku bisa hidup sampai tua renta.
Aku pun sangat mencintai anak-anakku. Bahkan aku merasa hidupku tak berarti tanpa mereka. Sekarang ini anakku yang besar sudah bekerja setelah menyelesaikan sarjananya. Anakku yang kedua masih SMA. Sepuluh tahun lagi, seharusnya anakku yang kedua pun sudah bekerja sehingga keduanya sudah mempunyai kehidupan sendiri. Mau apa lagi? Mau menikmati hidup? Seandainya aku kaya, aku akan keliling dunia. Tapi bukan berarti karena aku tidak mempunyai apa-apa terus aku mau mati saja. Juga bukan itu. Sederhana saja. Karena secara fisik aku sudah tidak bisa melakukan yang aku pandang sebagai hidup enak. Enak makan, enak tidur, enak sex dan enak berkegiatan. Tentu saja kegiatan yang aku suka dan memang disitu lah masalahnya kan?
Oh-ya, mungkin jika ada yang membaca ini berpikir karena aku sakit-sakitan dan hidup dengan cara tidak sehat. Tidak. Aku orang yang hidup sehat, santai dan cukup teratur, walaupun memang aku jenis orang yang malas, tidak disiplin dan manajemen hidupku kacau. Aku tidak merokok (sama sekali belum pernah merokok satu isap pun, believe me), tidak minum minuman keras dan belum pernah sakit yang cukup keras. Bahkan sakit seperti flu dan lain-lain yang umum di masyarakat pun jarang kualami. Stress karena masalah masih sangat terkendali dan jauh dari menggerogoti pikiranku. Kalau melihat cara hidupku sih seharusnya aku bisa hidup sampai tua renta.
Aku pun sangat mencintai anak-anakku. Bahkan aku merasa hidupku tak berarti tanpa mereka. Sekarang ini anakku yang besar sudah bekerja setelah menyelesaikan sarjananya. Anakku yang kedua masih SMA. Sepuluh tahun lagi, seharusnya anakku yang kedua pun sudah bekerja sehingga keduanya sudah mempunyai kehidupan sendiri. Mau apa lagi? Mau menikmati hidup? Seandainya aku kaya, aku akan keliling dunia. Tapi bukan berarti karena aku tidak mempunyai apa-apa terus aku mau mati saja. Juga bukan itu. Sederhana saja. Karena secara fisik aku sudah tidak bisa melakukan yang aku pandang sebagai hidup enak. Enak makan, enak tidur, enak sex dan enak berkegiatan. Tentu saja kegiatan yang aku suka dan memang disitu lah masalahnya kan?
Ya Allah Ya Tuhanku, aku mohon kepadamu berilah aku hidayahMu, kuatkanlah imanku, dan percepatlah proses sakaratul mautku.